Rabu, 16 Mei 2012

POLA ASUH ANAK PADA KELUARGA NELAYAN DI DESA MEULINGGE KECAMATAN PULO ACEH KABUPATEN ACEH BESAR


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Keluarga adalah kesatuan masyarakat terkecil yang merupakan inti dari sendi-sendi masyarakat. Keluarga merupakan lingkungan pendidikan pertama dan utama bagi perkembangan pribadi anak, dikatakan pertama karena sejak anak masih ada dalam kandungan dan lahir berada didalam keluarga, dikatakan utama karena keluarga merupakan lingkungan yang sangat penting dalam proses pendidikan untuk membentuk pribadi yang utuh. Jadi semua aspek kepribadian dapat dibentuk di lingkungan ini. Perilaku ataupun perlakuan orang tua terhadap anak merupakan factor yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan anak terkait dengan cara bagaimana orang tua mendidik dan membesarkan anak.
Dalam berinteraksi dengan anak, orang tua dengan tidak sengaja atau tanpa disadari mengambil sikap tertentu. Anak melihat dan menerima sikap orang tuanya dan memperhatikan suatu reaksi dalam tingkah lakunya yang dibiasakan, sehingga akhirnya menjadi suatu pola kepribadian. Begitu pula cara-cara bertingkah laku orang tua yang cenderung demokratis,  ataupun otoriter yang masing-masing sangat mempengaruhi suasana interaksi keluarga dan dapat merangsang perkembangan ciri-ciri tertentu pribadi anak. Dalam keluarga ada orang tua yang cenderung menerapkan pola perlakuan demokratis, dan ada pula sejumlah orang tua yang bersikap otoriter. asing-masing pola perlakuan tersebut membawa dampak sendiri-sendiri bagi anak.[1]

Dalam keluarga terjadi proses pembudayaan dari orang tua kepada anak tentang pengenalan secara dini, untuk mengenal sesama anggota dalam lingkungan yang diikuti tentang pemahaman nilai-nilai serta norma-norma yang berlaku. Dalam kehidupan berkeluarga pula anak-anak akan merasakan bagaimana pandangan dan perlakuan orang tua dalam mengasuh anak-anaknya, apakah merasa diperhatikan atau diabaikan. Disinilah anak-anak akan merasakan situasi-situasi yang menentukan harga dirinya dimasa depan kelak.
Orang tua mempunyai peranan yang sangat penting dan mempunyai tanggung jawab yang sangat besar terhadap semua anggota keluarga yang menjadi tanggung jawabnya. Khususnya seorang ibu yang bisa dikatakan sebagai arsitektur dalam rumah tangga, ia dituntut bisa mengatur suasana dalam rumah dan menjadi kunci utama dalam membentuk pribadi anak-anaknya.Seorang ibu diharapkan bisa mengatur suasana artinya ia dapat menciptakan suasana atau kondisi keluarga yang harmonis, tenang dan bias membawa kedamaian diantara seluruh anggota keluarga. Ia juga menjadi salah satu pembentuk pribadi anak, yang mengandung maksud bahwa ia mempunyai tanggung jawab yang besar terhadap pembentukan pola tingkah laku dan penanaman moral pada anak. Sudah menjadi tradisi bahwa tiap kali seorang anak bertindak salah, maka masyarakat pertama kali akan menimpakan kesalahan tersebut pada ibunya, bagaimana cara ibunya mendidik anak.
Memang dari gambaran di atas terlihat jelas bahwa tugas seorang ibu cukup berat, dan lebih berat lagi apabila anak-anaknya telah menginjak dewasa. Dalam kehidupan rumah tangga ibu mempunyai peranan yang sangat penting dalam mengasuh anak.
Menurut pendapat Hendrawan Nadesul bahwa dihari depan setiap anak tergantung pada ibunya, sebagian nasib anak ditentukan oleh keputusan ibu selama membesarkannya. Dengan kata lain seorang ibu mempunyai peranan yang dominan dalam membentuk anaknya. Oleh karena itu, seorang ibu harus mempunyai pengetahuan yang cukup tentang bagaimana cara mengasuh anak dengan mempertimbangkan dan memperhatikan perkembangan jiwa anak secara baik. Begitu berat dan tanggung jawab yang dibebankan kepada ibu, tentunya harus menjadi perhatian yang besar tentang bagaimana cara pandang ibu tentang mengasuh anak. [2]  Sebagaimana terjadi di keluarga nelayan desa Meulingge, seorang ibu disana rata-rata berpendidikan rendah dan didalam mengasuh anak-anaknya hanya dengan kemampuan seadanya sehingga hasilnyapun terkesan biasa-biasa saja bahkan ada yang kurang baik. Sebenarnya mereka telah memiliki kesadaran yang cukup baik seiring dengan perkembangan jaman dalam mengasuh anak. Namun karena kesibukannya mereka mengabaikan cara mengasuh anak yang baik.
Seorang anak di kalangan keluarga nelayan Desa Meulingge kalau kita lihat dalam kesehariannya kurang sopan. Itu tercermin dari cara berbicara mereka dengan orang lain, baik itu dengan orang tua, tetangga dan orang yang baru mereka kenal. Sebagian anak-anak nelayan masih berpendidikan relatif rendah yaitu hanya sampai tingkat Sekolah Dasar, bahkan ada juga yang tidak lulus SD. Anak-anak tersebut memilih mengikuti jejak orang tua mereka sebagai nelayan daripada melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Sebenarnya ada keinginan dari mereka ingin melanjutkan sekolah tapi karena kemampuan orang tuanya yang terbatas maka mereka hanya bisa menerima keadaan yang ada. Dari dasar ini kemudian mempengaruhi tingkah laku dan tingkat intelektual anak. Dalam melaut waktu yang dibutuhkan nelayan Desa Meulingge untuk mencari ikan bervariasi, ada yang sehari, tiga hari, seminggu, sebulan dan bahkan lebih. Tetapi sebagian masyarakat nelayan di desa Meulingge melaut satu hari pulang, mereka berangkat dari pukul 03.00 WIB dan pulang kurang lebih pukul 15.00 WIB. Pada kondisi demikian mengharuskan ibu (istri) mempunyai peranan yang sangat penting dalam mengelola, membina rumah tangga dan sekaligus mengasuh anak, karena suaminya tidak mempunyai banyak waktu luang untuk berkumpul dengan keluarga. Kepemimpinan keluarga yang seharusnya dijalankan oleh seorang suami dalam prakteknya ibu yang memegang peranan lebih besar jika dibandingkan dengan suaminya. Begitu juga dalam pola pengasuhan anak, kewibawaan ayah sangat kurang karena anak jarang sekali bertemu dengan ayahnya. Mereka baru bisa berkumpul sebagai keluarga inti hanya beberapa jam saja setiap harinya. Faktor sosial ini menyebabkan pendidikan anak pada keluarga nelayan kurang. Hal ini terjadi karena kurangnya pengawasan dan pengarahan dari orang tua tentang pendidikan bagi anak.
Ayah sibuk dengan aktivitasnya sebagai nelayan di laut, sedangkan ibu sibuk dengan aktivitas rumah tangganya sehingga akan diberikan kebebasan bergaul sesuai dengan kemampuan dan kemauannya sendiri. Anggapan orang tua yang penting materi tercukupi berarti orang tua sudah melaksanakan kewajibannya. Masalah pendidikan dan kebutuhan lainnya kurang diperhatikan, hal ini menyebabkan rata-rata pendidikan anak nelayan masih relatif rendah dan mereka lebih suka mengikuti jejak ayahnya sebagai nelayan.
Berdasarkan uraian tersebut di atas maka peneliti memberi judul skripsi “Pola asuh anak pada keluarga nelayan di Desa Meulingge Kecamatan Pulo Aceh Kabupaten Aceh Besar”.

B.     Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
1.      Bagaimana pola keluarga nelayan dalam mengasuh anak di desa meulingge Kecamatan Pulo aceh kabupaten Aceh Besar ?
2.      Bagaimana peranan ibu dalam megasuh anak pada keluarga nelayan?




C.    Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah:
1.      Mendeskripsikan pola keluarga nelayan dalam mengasuh anak di desa Meulingge Kecamatan Pulo Aceh,
2.      Untuk mengetahui peranan ibu dalam mengasuh anak pada keluarga nelayan di Desa meulingge Kecamatan pulo aceh,

D.    Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian ini adalah:
1.      Manfaat secara teoritis
Penelitian ini diharapkan bisa menambah wawasan pengetahuan tentang pola pengasuhan dan peranan ibu dalam mengasuh anak.
2.      Manfaat secara praktis
Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai informasi tentang pengasuhan anak di keluarga nelayan, memberi masukan bagi Jurusan serta akademisi dan instansi terkait untuk bisa memperhatikan masalah pendidikan anak di keluarga nelayan.



[1] Yullia singgih dan singgih D,gunarsa .psikologi untuk membimbing (Jakarta: BPK Gunung Mulia2000), hal 82.
[2] Nadesul, Hendrawan. Cara Sehat Mengasuh Anak, (Jakarta: Puspaswara.1996). hal 16

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar