Rabu, 21 Maret 2012

skripsi dakwah lom


PERANAN KELUARGA NELAYAN DALAM MENGASUH ANAK DI DESA MEULINGGE KECAMATAN
PULO ACEH KABUPATEN
ACEH BESAR




SKRIPSI

Diajukan dalam Rangka Menyelesaikan Studi Strata I
untuk Mendapatkan Gelar Sarjana Pendidikan


Oleh

Nama              : Indra Fevriadi.
NIM                : 440605004
Jurusan          : Pengembangan Masyarakat



















FAKULTAS DAKWAH
INSTINTUT AGAMA ISLAM NEGERI IAIN AR-RANIRY
DARUSSLAM
2011



PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Keluarga adalah kesatuan masyarakat terkecil yang merupakan inti dari sendi-sendi masyarakat. Keluarga merupakan lingkungan pendidikan pertama dan utama bagi perkembangan pribadi anak, dikatakan pertama karena sejak anak masih ada dalam kandungan dan lahir berada didalam keluarga, dikatakan utama karena keluarga merupakan lingkungan yang sangat penting dalam proses pendidikan untuk membentuk pribadi yang utuh. Jadi semua aspek kepribadian dapat dibentuk di lingkungan ini. Perilaku ataupun perlakuan orang tua terhadap anak merupakan factor yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan anak terkait dengan cara bagaimana orang tua mendidik dan membesarkan anak.
Dalam berinteraksi dengan anak, orang tua dengan tidak sengaja atau tanpa disadari mengambil sikap tertentu. Anak melihat dan menerima sikap orang tuanya dan memperhatikan suatu reaksi dalam tingkah lakunya yang dibiasakan, sehingga akhirnya menjadi suatu pola kepribadian. Begitu pula cara-cara bertingkah laku orang tua yang cenderung demokratis,  ataupun otoriter yang masing-masing sangat mempengaruhi suasana interaksi keluarga dan dapat merangsang perkembangan ciri-ciri tertentu pribadi anak. Dalam keluarga ada orang tua yang cenderung menerapkan pola perlakuan demokratis, dan ada pula sejumlah orang tua yang bersikap otoriter. Masing-masing pola perlakuan tersebut membawa dampak sendiri-sendiri bagi anak.[1]

Dalam keluarga terjadi proses pembudayaan dari orang tua kepada anak tentang pengenalan secara dini, untuk mengenal sesama anggota dalam lingkungan yang diikuti tentang pemahaman nilai-nilai serta norma-norma yang berlaku. Dalam kehidupan berkeluarga pula anak-anak akan merasakan bagaimana pandangan dan perlakuan orang tua dalam mengasuh anak-anaknya, apakah merasa diperhatikan atau diabaikan. Disinilah anak-anak akan merasakan situasi-situasi yang menentukan harga dirinya dimasa depan kelak.
Orang tua mempunyai peranan yang sangat penting dan mempunyai tanggung jawab yang sangat besar terhadap semua anggota keluarga yang menjadi tanggung jawabnya. Khususnya seorang ibu yang bisa dikatakan sebagai arsitektur dalam rumah tangga, ia dituntut bisa mengatur suasana dalam rumah dan menjadi kunci utama dalam membentuk pribadi anak-anaknya.Seorang ibu diharapkan bisa mengatur suasana artinya ia dapat menciptakan suasana atau kondisi keluarga yang harmonis, tenang dan bias membawa kedamaian diantara seluruh anggota keluarga. Ia juga menjadi salah satu pembentuk pribadi anak, yang mengandung maksud bahwa ia mempunyai tanggung jawab yang besar terhadap pembentukan pola tingkah laku dan penanaman moral pada anak. Sudah menjadi tradisi bahwa tiap kali seorang anak bertindak salah, maka masyarakat pertama kali akan menimpakan kesalahan tersebut pada ibunya, bagaimana cara ibunya mendidik anak.
Memang dari gambaran di atas terlihat jelas bahwa tugas seorang ibu cukup berat, dan lebih berat lagi apabila anak-anaknya telah menginjak dewasa. Dalam kehidupan rumah tangga ibu mempunyai peranan yang sangat penting dalam mengasuh anak.
Menurut pendapat Hendrawan Nadesul bahwa dihari depan setiap anak tergantung pada ibunya, sebagian nasib anak ditentukan oleh keputusan ibu selama membesarkannya. Dengan kata lain seorang ibu mempunyai peranan yang dominan dalam membentuk anaknya. Oleh karena itu, seorang ibu harus mempunyai pengetahuan yang cukup tentang bagaimana cara mengasuh anak dengan mempertimbangkan dan memperhatikan perkembangan jiwa anak secara baik. Begitu berat dan tanggung jawab yang dibebankan kepada ibu, tentunya harus menjadi perhatian yang besar tentang bagaimana cara pandang ibu tentang mengasuh anak. [2]  Sebagaimana terjadi di keluarga nelayan desa Meulingge, seorang ibu disana rata-rata berpendidikan rendah dan didalam mengasuh anak-anaknya hanya dengan kemampuan seadanya sehingga hasilnyapun terkesan biasa-biasa saja bahkan ada yang kurang baik. Sebenarnya mereka telah memiliki kesadaran yang cukup baik seiring dengan perkembangan jaman dalam mengasuh anak. Namun karena kesibukannya mereka mengabaikan cara mengasuh anak yang baik.
Seorang anak di kalangan keluarga nelayan Desa Meulingge kalau kita lihat dalam kesehariannya kurang sopan. Itu tercermin dari cara berbicara mereka dengan orang lain, baik itu dengan orang tua, tetangga dan orang yang baru mereka kenal. Sebagian anak-anak nelayan masih berpendidikan relatif rendah yaitu hanya sampai tingkat Sekolah Dasar, bahkan ada juga yang tidak lulus SD. Anak-anak tersebut memilih mengikuti jejak orang tua mereka sebagai nelayan daripada melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Sebenarnya ada keinginan dari mereka ingin melanjutkan sekolah tapi karena kemampuan orang tuanya yang terbatas maka mereka hanya bisa menerima keadaan yang ada. Dari dasar ini kemudian mempengaruhi tingkah laku dan tingkat intelektual anak. Dalam melaut waktu yang dibutuhkan nelayan Desa Meulingge untuk mencari ikan bervariasi, ada yang sehari, tiga hari, seminggu, sebulan dan bahkan lebih. Tetapi sebagian masyarakat nelayan di desa Meulingge melaut satu hari pulang, mereka berangkat dari pukul 03.00 WIB dan pulang kurang lebih pukul 15.00 WIB. Pada kondisi demikian mengharuskan ibu (istri) mempunyai peranan yang sangat penting dalam mengelola, membina rumah tangga dan sekaligus mengasuh anak, karena suaminya tidak mempunyai banyak waktu luang untuk berkumpul dengan keluarga. Kepemimpinan keluarga yang seharusnya dijalankan oleh seorang suami dalam prakteknya ibu yang memegang peranan lebih besar jika dibandingkan dengan suaminya. Begitu juga dalam pola pengasuhan anak, kewibawaan ayah sangat kurang karena anak jarang sekali bertemu dengan ayahnya. Mereka baru bisa berkumpul sebagai keluarga inti hanya beberapa jam saja setiap harinya. Faktor sosial ini menyebabkan pendidikan anak pada keluarga nelayan kurang. Hal ini terjadi karena kurangnya pengawasan dan pengarahan dari orang tua tentang pendidikan bagi anak.
Ayah sibuk dengan aktivitasnya sebagai nelayan di laut, sedangkan ibu sibuk dengan aktivitas rumah tangganya sehingga akan diberikan kebebasan bergaul sesuai dengan kemampuan dan kemauannya sendiri. Anggapan orang tua yang penting materi tercukupi berarti orang tua sudah melaksanakan kewajibannya. Masalah pendidikan dan kebutuhan lainnya kurang diperhatikan, hal ini menyebabkan rata-rata pendidikan anak nelayan masih relatif rendah dan mereka lebih suka mengikuti jejak ayahnya sebagai nelayan.
Berdasarkan uraian tersebut di atas maka peneliti memberi judul skripsi “peranan keluarga nelayan dalam mengasuh anak di desa Meulingge kecamatan Pulo Aceh kabupaten Aceh Besar”.

B.     Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
1.      Bagaimana pola keluarga nelayan dalam mengasuh anak di desa meulingge Kecamatan Pulo aceh kabupaten Aceh Besar ?
2.      Bagaimana peranan ibu dalam megasuh anak pada keluarga nelayan?

C.    Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah:
1.      Mendeskripsikan pola keluarga nelayan dalam mengasuh anak di desa Meulingge Kecamatan Pulo Aceh,
2.      Untuk mengetahui peranan ibu dalam mengasuh anak pada keluarga nelayan di Desa meulingge Kecamatan pulo aceh,

D.    Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian ini adalah:
1.      Manfaat secara teoritis
Penelitian ini diharapkan bisa menambah wawasan pengetahuan tentang pola pengasuhan dan peranan ibu dalam mengasuh anak.
2.      Manfaat secara praktis
Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai informasi tentang pengasuhan anak di keluarga nelayan, memberi masukan bagi Jurusan serta akademisi dan instansi terkait untuk bisa memperhatikan masalah pendidikan anak di keluarga nelayan.

E.     Metode Penelitaan
1.      Pendekatan Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan kualitatif yaitu pendekatan yang memandang obyek kajian terdiri dari unsur yang saling terkait dan mendeskripsikan fenomena yang andal[3].
Sesuai dengan judul yaitu tentang model pengasuhan anak pada keluarga nelayan maka penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif karena permasalahan yang akan di bahas tidak berkenaan dengan angka angka, tetapi mendeskripsikan, menguraikan dan menggambarkan tentang model pengasuhan dan peranan ibu dalam mengasuh anak pada keluarga nelayan. Selain itu peneliti juga menguraikan gambaran umum dari desa Meulinge Kecamatan Pulo Aceh Kabupaten Aceh Besar. Agar peneliti dapat mendeskripsikan secara jelas dan rinci serta dapat memperoleh data yang mendalam dari fokus penelitian ini, maka peneliti menggunakan metode kualitatif, penelitian kualitatif memiliki lima ciri yaitu:
1.      Dilaksanakan dengan latar alami, karena merupakan alat penting adalah adanya sumber data yang langsung dari peristiwa
2.      Bersifat deskriptif yaitu data yang dikumpulkan berbentuk kata-kata atau gambar dari pada angka.
3.      Lebih memperhatikan proses daripada hasil atau produk semata.
4.      Dalam menganalisis data cenderung cara induktif.
5.      Lebih mementingkan tentang makna (esensial).[4]
2.      Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian adalah obyek penelitian dimana kegiatan penelitian dilakukan. Penentuan lokasi penelitian dimaksudkan untuk mempermudah dan memperjelas obyek yang menjadi sasaran penelitian, sehingga permasalahan tidak terlalu luas. Yang dijadikan lokasi dalam penelitian ini adalah keluarga nelayan di desa Meulinge Kecamatan Pulo Aceh Kabupaten Aceh Besar. Alasan dipilihnya daerah ini karena memiliki masyarakat nelayan yang luas sera daerahnya berada di ujung pulo aceh dengan keadaan desa kurang mendapatkan perhatiaan maupun pembinaan.
3.       Fokus Penelitian
Fokus penelitian berisi pokok kajian yang menjadi pusat perhatian. Dalam penelitian ini yang menjadi fokus penelitiannya, adalah: deskripsi model pengasuhan anak pada keluarga nelayan dan peran ibu dalam mengasuh anak pada keluarga nelayan di Desa Meulinge Kecamatan Pulo Aceh Kabupaten Aceh Besar.
4.      Subjek dan Objek Penelitian
Subjek penelitian adalah seluruh populasi penelitian dalam hal ini yang menjadi subjek penelitian adalah seluruh masyarakat nelayan di Desa Meulinge Kecamatan Pulo Aceh Kabupaten Aceh Besar, sedangkan objek penelitian adalah sebagian dari jumlah subjek penelitian, maka dalam hal penelitian ini yang menjadi objek meliputi beberpa keluarga nelayan, yang terdiri dari; keluarga nelayan juragan, tiga keluarga pekerja, dan tiga nelayan miskin. Selain sembilan objek tersebut penelitian di atas, penulis juga membutuhkan informan pendukung untuk melengkapi informasi penelitian ini antara lain, kepala desa serta imam meunasah desa.

5.      Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis data dilakukan bersama dengan pengumpulan data, adapun metode yang digunakan dalam pengumpulan data adalah sebagai berikut:
1.      Metode Observasi
Merupakan metode pengumpulan data esensial dalam penelitian terlebih menggunakan pendekatan kualitatif. Pengamatan atau observasi dimanfaatkan sebesar-besarnya seperti yang dikemukakan oleh Lincoln dan Guba bahwa:
a.       Teknik pengamatan didasarkan atas pengalaman secara langsung.
b.      Teknik pengamatan juga memungkinkan melihat dan mengamati sendiri
c.       Pengamatan memungkinkan peneliti mencatat peristiwa dalam situasi proporsional maupun pengetahuan yang langsung diperoleh dari data
d.      Teknik pengamatan memungkinkan peneliti mampu memahami situasi-situasi yang rumit Untuk mengetahui gambaran awal tentang subyek penelitian, maka peneliti harus lebih dahulu mengadakan survey terhadap situasi dan kondisi sasaran penelitian. Dalam hal ini peneliti akan mengamati langsung tentang hal-hal yang berkaitan dengan fokus penelitian, misalnya melakukan pengamatan terhadap pola kehidupan nelayan, rutinitas ibu-ibu nelayan, dan kegiatan serta perilaku anak-anak dari keluarga nelayan.
2.       Metode Wawancara
Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan itu dilakuakan oleh dua pihak yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan yang diwawancarai (interviewee) yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu. Wawancara dilakukan melalui tanya jawab langsung kepada nara sumber yang dapat dipercaya kebenarannya.[5]
Pengambilan data dalam metode wawancara dilakukan secara langsung saat pengamatan, dengan menggunaklan pedoman wawancara yang telah dipersiapkan terlebih dahulu. Keuntungan menggunakan metode wawancara adalah :
a.       Wawancara dapat digunakan pada responden yang tidak bisa membaca dan menulis.
b.       Jika ada pertanyaan yang belum dipahami, pewawancara dapat segera menjelaskan.
c.        Wawancara dapat mengecek kebenaran dari jawaban responden dengan mengajukan pertanyaan pembanding atau dengan melihat wajah maupun gerak-gerik responden.
Wawancara dalam penelitian ini dilakukan untuk mengungkap bagaimana sebenarnya model pengasuhan anak dan peran ibu dalam mengasuh anak pada keluarga nelayan Desa Meulinge. Adapun aspek yang ditanyakan dalam wawancara dalam penelitian ini meliputi; identitas responden, dan hal yang berkaitan dengan fokus penelitian (tentang bagaimana model pengasuhan anak dan peranan ibu dalam mengasuh anak dalam keluarga nelayan).
3.      Dokumentasi
Metode dokumentasi merupakan suatu metode pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mengadakan pencatatan atau pengutipan data dari dokumen yang ada dalam lokasi penelitian. Dokumen ini dimaksudkan  untuk melengkapi data dari wawancara dan observasi. Dokumentasi dapat berupa surat-surat, gambar atau foto dan catatan lain yang berhubungan dengan penelitian. Dokumentasi dalam penelitian ini adalah untuk memperoleh data tertulis dan nyata yang meliputi; gambaran umum  desa Meulinge yang dapat dilihat dari data Monografi desa, surat ijin penelitian, dan foto-foto yang berkaitan dengan penelitian.

6.       Teknik Analisis Data
Bersamaan dengan proses pengumpulan data dilakukan juga analisis data. Alur  analisis dengan mereduksi banyaknya data yang diperoleh, diklasifikasikan dalam domain untuk memperoleh gambaran yang bersifat umum dan relatif menyeluruh dari suatu fokus permasalahan yang diteliti.[6]
Analisis data dilakukan bersamaan dalam proses pengamatan dan wawancara deskriptif, selanjutnya dilakukan analisis taksonomik yang berusaha merinci lebih lanjut, Analisis taksonomik dilakukan bersamaan dengan pengamatan terfokus dan wawancara struktural. Dalam tahap ini terkait dengan fokus penelitian yaitu “model pengasuhan anak pada keluarga nelayan dan peran ibu dalam mengasuh anak pada keluarga nelayan.
Selanjutnya dengan analisis tema untuk mendiskripsikan secara menyeluruh dan menampilkan makna dari yang menjadi fokus penelitian.
Dari hasil studi tersebut dilakukan pembahasan dari analisis serta evaluasi sesuai dengan kriteria yang ada. Kemudian dilakukan penarikan kesimpulan dan analisis rekomendasi. Berangkat dari analisis rekomendasi ini kemudian diajukan beberapa rekomendasi yang dipandang penting dan bermanfaat bagi para ibu atau keluarga nelayan tentang model pengasuhan anak dan peranan ibu dalam mengasuh anak dalam keluarga nelayan.


[1] Yullia singgih dan singgih D,gunarsa .psikologi untuk membimbing (Jakarta: BPK Gunung Mulia2000), hal 82.
[2] Nadesul, Hendrawan. Cara Sehat Mengasuh Anak, (Jakarta: Puspaswara.1996). hal 16
[3] Arikunto, Suharsimi,  Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. (Jakarta :            Rineka Cipta, 2002), hal, 203).

[4] Moleong, J.L. Metodelogi Penelitian Kualitatif. (Bandung: PT Remaja Rosda Karya 2002). Hal, 4-8.
[5] Moleong, J.L.. Metodelogi Penelitian Kualitatif. (Bandung: PT Remaja Rosda Karya 1997).
   Hal: 135.
[6] Faisal Sanapiah, Metodologi dan riset, Penelitian (Malang Y A 3, 1990): hal 91- 108

Selasa, 20 Maret 2012


Proyek Geothermal Seulawah Butuh Investasi Rp 270 Miliar
Firman Hidayat | The Globe Journal
Senin, 04 Juli 2011 00:00 WIB
Banda Aceh — Kepala Dinas Pertambangan dan Energi, Provinsi Aceh, Said Ikhsan kepada The Globe Journal, Minggu (03/7) mengatakan proyek geothermal yang didanai bantuan hibah Negara German di Seulawah, Aceh itu belum dimulai. Saat ini sedang dilakukan proses lelang. Diharapkan tahun 2015 mendatang proyek energi panas bumi itu sudah bisa menghasilkan. 

Melalui staff Distamben Aceh, salah seorang panitia proyek tersebut Syakur kepada The Globe Journal, Senin (04/7) mengatakan proyek geothermal di Aceh hanya ada dua, yaitu Kota Sabang di Jaboi  dan Kabupaten Aceh Besar di Seulawah. Untuk proyek energi panas bumi di Seulawah, Aceh Besar ini sedang dilakukan proses lelang. Diharapkan dalam tahun 2011 ini sudah ada pemenang nama perusahaan yang akan melakukan investasinya di Aceh.

Syakur menjelaskan panitia yang di SK kan oleh Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf akan melakukan seleksi yang sangat ketat terhadap proses lelang proyek energi panas bumi di Seulawah itu. Minimal perusahaan yang ikut harus ada jaminan sedikitnya Rp 1 miliar. “Perusahaan yang dipilih ini harus benar-benar punya kemampuan,” tukas Syakur. 

Untuk proyek geothermal di Seulawah itu belum dilakukan kegiatan apapun. Namun rencana awalnya ada 45.000 hektar lahan yang diklaim sebagai Wilayah Kerja Pertambangan (WKP). Mulai dari Seulimeun, Lamteuba dan Krueng Raya. Sehingga setelah ada perusahaan yang mampu mengelola proyek tersebut maka titik kosentrasinya diambil hanya 10.000 hektar saja. “Untuk saat ini pihaknya sudah menentukan ada lima titik di lokasi WKP tersebut,” Ujar Syakur lagi. 

Setelah ada pemenang dari proses lelang tahun ini, maka perusahaan yang menang itu harus mendapatkan IUP dari izin Gubernur Aceh untuk melakukan kegiatan ekplorasi selama tiga tahun. Kemudian menempatkan uang jaminan sebanyak 10 juta USD. Diharapkan tahun 2012 mendatang sudah dilakukan ekploirasi hingga 2014. Dan pada tahun 2015 sudah mulai terlihat pembangkit listrik hingga 55 mega watt. 

Untuk membantu proyek geothermal di Seulawah ini, Negara Jerman telah memberikan dana hibah sebesar 7 juta Euro atau setara dengan Rp 90 miliar. Sedangkan total dana yang dibutuhkan hingga proyek ini bisa menghasilkan mencapai hingga tiga kali bantuan hibah dari German. Menurut Syakur paling tidak harus ada dana sebanyak Rp 270 miliar untuk investasi proyek tersebut. “Kalau memang ada perusahaan yang mampu silahkan ikut proses lelang untuk proyek tersebut,” pinta Syakur yang mengaku belum mengetahui perusahaan apa saja yang sudah mendaftar untuk mengikuti lelang proyek geothermal ini


Geothermal Seulawah diharapkan dilelang pada 2010

Energi panas bumi (geothermal) yang dimiliki gunung Seulawah diharapkan bisa dilelang pada 2010 sehingga bisa segera dimanfaatkan untuk menghasilkan energi listrik.
“Pemerintah Provinsi, dan Pemerintah Kabupaten Aceh Besar sudah siapkan panitia tender, diharapkan tahun ini bisa dilakukan pelelangan,” kata bupati Aceh Besar, Bukhari Daud, di Aceh Besar, tadi sore.
Pelelangan, katanya, direncanakan paling lambat pada April 2010, dan saat ini sedang dilakukan berbagai persiapan, diantaranya penerbitan peraturan gubernur (Pergub) dan surat keputusan (SK) gubernur tentang panitia lelang.
Geothermal di gunung Seulawah Agam di kabupaten Aceh Besar merupakan potensi energy, yang besar dengan mengkonversi energi panas bumi menjadi tenaga listrik berkapasitas 250 Megawatt (MW).
Survei awal yang dilakukan oleh Badan Geologi Bandung dari Departemen ESDM, menyatakan, panas bumi Seulawah Agam menyimpan potensi sebesar 40 hingga 55 Megawatt (MW).
Eksplorasi geothermal dilakukan atas kerjasama, dengan pemerintah Jerman, yang memberikan bantuan dana dalam bentuk grant (hibah) kepada pemerintah Aceh sebesar tujuh juta euro, atau sekitar Rp108 miliar.
Selain dana hibah tersebut, Jerman juga sudah sepakat memberi pinjaman lunak sebesar 56 juta euro (Rp728 miliar) untuk kegiatan eksploitasi energi panas bumi di Seulawah Agam.
Disebutkan, meskipun dalam tahun ini dilelang, kemungkinan baru 5-7 tahun kedepan manfaat energi panas bumi tersebut bisa memenuhi seluruh kebutuhan listrik di Aceh.
“Dengan pemanfaatan geothermal, kita tidak akan lagi mengalami kekurangan energi listrik seperti selama ini,” tambahnya. Secara umum provinsi Aceh mengalami defisit listrik, sehingga sering terjadi pemadaman, yang berakibat pada terganggunya perekonomian masyarakat.
sumber : www.waspada.co.id

Minggu, 12 Februari 2012

wajar


disini kembali kosong
disini kembalu sepi
disini kembali galau
disini aku bukan lagi siapa-siapa,dan apa
disini kembali seperti mau mu
disini kembali dipatahkan lagi ?


february 2012
kepada alam









pengiat datangdari
rasa pedulu atau sebagai
merasakan desas angin di puncak tertinggi yang dianggapnya
...................................
,tubuh tuamu

dan lagunya tak pernah terwakili
seakan,nadanya derajat yang disudutkan
dipinggir jalan. jajakannya di lentangkan
nenek penjual rempahan menunggu pembeli datang
decelah kaki para penggiat lain
walau panas dan hujan gerimis tak lagi jadi keluhan
walau hasilnya tak terbeli kemauaanya
walau luka tercoreh golok ..............
.......................................





.......................belum siap

Kamis, 15 Desember 2011

tahun sebelumnya



keanggunganku pd banyak mimpi
pada bayang2 illahi
hingga kakiku kaku akan tak pasti
waktuku slalu di terpa angin lalu yang sepi

betapa engggannya aku pd tatapan hangatku
padamu yang ramah...
ragaku terbawa dari kisah yang tabu
ceritanya tak bisa ku katakan pada makluk bumi
ceritaku hanyyalah ceerita buram yang tersangkut
pada kaki nista

lagu ku ada., namun
nada tak pernah kudapati
masaku indah
tatapanku pudar

dalam derai angin ku ucapkan kata manis,
ketika, mereka mendengarku ucapku
maka, kulepas kata nista
itulah diriku dari sekiaan nya aku..??

Kamis, 08 Desember 2011

2010 penakku


2010

entahlah.
yang ku saksikan derita bagiku
yang kujalankan keterpaksaan,
yang ku mau kata yang lugas - tulus seperti adanya.

lebaran ini .... begitu adanya.?
hujan yg bisa memberi alasan atas janji yg tak ku tepati
. . .lama sudah menanti,..
lebaran kali ini masih jg penuh penak?
kan ku titipkan isyaratku padamu hujan
bahwa...................................................
aku mau hatiku mengenal lebaran bukan hanya ragaku,

kini ku terbius benci? ? ? ?  ? ?



aku n penakku

Senin, 05 Desember 2011

aku sedang mikirin kamu ??

Rabu, 02 November 2011

INDRA FEVRIADY


SA DALAM (bawelku)

oleh Indra Fevriadi Bebb pada 13 Desember 2010 jam 22:22
Kemana harus ku buang jika aku sesal,muak.
Klo bukan pada tulisan ku.
Mungkin,! tak ada sandaran  pd lainnya,.

“Tpi disini kutak menggingkarimu tuhan”.
Aq hanya sesal sesaat waktu. Muak pada sekian waktu saja,,
Aku benci pada arus yang tak tentu, cinta pada bunga yang tak jadi bunga,.
=- Aq tau kataku hanya muasal sekian kata manis lainya,
Tapi ini hamparan ku , ini mungkin expresi tak tentuku pada kata2ku.
Maaf jika aq kau jadi tertawa,~!@#$%^&*+
Ah,)).?! disini aku masih muak pada semua,aduh aku sok benci lagi pada hantu banyangan ku.tp
Entahlah, aq jadi tak tentu arah,..
Asal aku tak gila arah di situ, aku tak sesal tentunya.
Sudutku telah diduduki musuh,: maka takdirlah aku jadinya..!!
Sejujurnya jiwa pembunuh hanyal masih ku miliki , masih nyata mata atas demokrasi dunia ini.
dan bisa kubunuh smua itu.?
dan demi jiwaqu.
Kenyataan sesal dan hanyalan manis tetap tersimpan sendiri.
How how .caci maki itu ??/??? simpan saja kawan  
                                                                                                INISESALDIUJUNG2010

Rabu, 19 Oktober 2011

Jumat, 26 Agustus 2011

Rabu, 24 Agustus 2011

1 hari sebelum 17 agustus

waktu ini,,:"
maafkan aku tak memberikan mu warna
maupun cerita dan kejutan indah yang membuat mu terpana di hari ini
adanya aku di pagi ini hanya dapat berbisik salam dalam hati saja
walau kau ingin kuawali, namun semua sudah terbiarkan oleh waktu
maafkan aku yang tak menjelma harimu....???
 kali ini bukan cerita indah buat kita,
karena aku masih dalam kasar hati pada yang lain.?
dan itu engkau lebih tau sendiri,. mungkin ??
..........kau dukaku dan nikmatku...............


Kamis, 11 Agustus 2011

Menunggu untuk dijemput ??!!(akhir)


Sajak.

Liang memang ada, tak akan terlewati
Waktu untk itu akan datang dalam pelukan terakhir,
Kecup kening di kala itu sungguh bermakna untuk yang   terakhir pula
True,..fall
Siapa ia pasti ia akan ia, selamat ia................
Ingatan hanya ingatan, lantang menderu hanya nada sesaat,
Selama  ini ia pelengkap kenangan tersirat,
Dari aliran darah nadi yang ada untuk sesuatu yang hidup,
Ia tak akan kembali  tak datang dalam nyata,
Laksamana  daun yang jatuh dan terburai .

            Kan ku doakan dalam sujudku untukmu
dari kami yang masih nyata  untukmu dalam bayangan
            Kan ku jadikan kiasanmu dulu sebagai satu arah bagiku
            Dan juga demi makna yang terkandung dalam kitab-kitabnya, agar pinta bermakna

Ia sungguh bermakna  dalam sekian waktu
Ia penebus perih yang berlari dalam kobaran
Sungguh Ia ...................................................................................???
Terimakasih  duhai tuhan ia kini sudah dalam tanganmu ?
Dan tempatkanlah ia pada deretan kaumyang engkau ridhoi 
Dan juga pada firdausmu............................?!!!